Masyarakat Samin masih banyak dijumpai dan mereka bertempat tinggal di desa-desa dalam wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi Propinsi Jawa Timur. Sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah tersebar di Kabupaten Blora, Pati dan Kudus. Masyarakat Samin sebenarnya adalah etnis Jawa namun karena mereka memiliki tata cara kehidupan bahkan tradisi yang berbeda dengan masyarakat Jawa maka masyarakat Samin dianggap sebagai etnis tersendiri.
Pencetus ajaran Saminisme adalah Samin Surosentiko yang lahir di Blora pada tahun 1859. Nama asli Samin Surosentiko adalah R Kohar yang merupakan anak dari R Surowidjoyo dan cucu dari RM Brotodiningrat yang merupakan Bupati Sumoroto yang berkuasa pada tahun 1802-1826. R Surowidjoyo sejak kecil dididik di lingkungan keraton dengan segala kemewahan. Namun dalam hatinya timbul perlawanan karena mengetahui rakyatnya sengsara oleh penjajahan Belanda. Pada tahun 1840, R. Surowidjoyo meninggalkan keraton dan membentuk kelompok pemuda yang dinamakan Tiyang Sami Amin. Kelompok pemuda yang dipimpinnya ini melakukan berbagai perampokan terhadap antek-antek Belanda dan membagikan hasilnya kepada orang miskin.
Tahun 1859 lahirlah R Kohar yang kemudian melanjutkan perjuangan ayahnya dan memakai nama Samin Surosentiko atau Samin Anom. Berbagai ajaran yang menyimpang dari kehidupan wajar etnis Jawa dan pembangkangan terhadap segala kebijakan penjajah Belanda terus disebarluaskan kepada para pengikutnya. Pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Digul. Empat puluh hari sebelum penangkapan itu, Samin Surosentiko memproklamirkan dirinya sebagai Raja Tanah Jawa. Pada tahun 1914, Samin Surosentiko meninggal dalam pengasingannya.
Sepeninggal Samin Surosentiko, kepemimpinan Samin diwariskan kepada Suro Kidin dan Mbah Engkrek. Suro Kidin adalah menantu Samin Surosentiko, sedangkan Mbah Engkrek adalah salah seorang murid setia Samin Surosentiko. Pola kepemimpinan pada masa ini tidak lagi bersifat sentralistik namun lebih bergantung pada pemimpin lokal di masing-masing wilayah.
Generasi berikutnya adalah Surokarto Kamidin, anak dari Suro Kidin. Surokarto Kamidin merupakan pemimpin Samin generasi ke-3 dan menetap di Dusun Jepang. Surokarto Kamidin memegang kepemimpinan pada masa peralihan pendudukan Belanda dan Jepang hingga pada masa kemerdekaan. Pada tahun 1986, Surokarto Kamidin meninggal dunia dan kepemimpinan Samin di Dusun Jepang digantikan oleh anaknya, Hardjo Kardi hingga saat ini.
Masyarakat Samin sebagai salah satu kelompok etnik yang ada di Indonesia tentu memiliki nilai-nilai budaya yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Di usia yang sudah satu abad lebih ini masyarakat Samin sudah mengalami perubahan pada pranata sosial dan kebudayaan yang selama ini mereka anut. Tradisi Saminisme sekarang sudah berubah, artinya Saminisme sudah bukan lagi menjadi kebanggaan dalam struktur sosial diamana mereka hidup. Apabila ditinjau dari sistem nilai, Saminisme sudah tidak lagi menjadi aturan dalam pluralitas nilai yang berada di tengah-tengah mereka.
Masyarakat Samin dengan berbagai tradisi dan budayanya serta memiliki ciri-ciri yang diungkapkan oleh Barth, bisa dikatakan salah satu kelompok etnik yang ada di Indonesia. Bahkan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah telah mengakui masyarakat Samin ini sebagai salah satu kelompok etnik yang ada di Jawa Tengah dari empat etnik yang ada. Komunitas Samin ialah sekelompok orang yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko yang muncul pada masa kolonial Belanda. Pada masa lalu masyarakat Samin dapat diidentifikasikan sebagai masyarakat yang ingin membebaskan dirinya dari ikatan tradisi besar yang dikuasai oleh elit penguasa.
Modernisasi dalam lingkup masyarakat tradisional akan menimbulkan implikasi terhadap masyarakat tersebut. Masyarakat tradisional bagaimanapun masih menjunjung tinggi nilai-nilai yang diwarisi secara turun temurun dari nenek moyangnya dulu. Karena itu kelompok masyarakat seperti ini telah memiliki pola budaya tertentu, sedangkan modernisasi tentu akan membawa pola budaya baru bagi masyarakat tersebut yang mungkin berbeda dengan norma serta nilai yang lama.
Tradisi Sambatan
Salah satu taradisi turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang adalah taradisi “sambatan”. “Sambatan” merupakan suatu sistem gotong royong di kampung dengan cara menggerakkan tenaga kerja secara masal yang berasal dari warga kampung itu sendiri untuk membantu keluarga yang sedang tertimpa musibah atau sedang mengerjakan sesuatu, seperti membangun rumah, menanam serta memanen padi dan menyelenggarakan pesta pernikahan.
Semangat bergotong royong berupa sambatan, melibatkan warga beramai-ramai membantu warga lainnya yang sedang punya gawe. Mereka ikut memperbaiki, bahkan mendirikan rumah tanpa mengharap imbalan apa pun. Budaya sambatan – dengan muatan sikap simpati dan empati- itu merupakan bagian dari budaya adiluhung masyarakat Jawa, dan terasa manfaatnya bagi masyarakat yang kurang mampu.
Sambatan dilakukan oleh warga kampung tersebut dengan sukarela tanpa mengharapkan upah atas pekerjaaannya itu karena didasari oleh asas principle of reciprocity, yaitu siapa yang membantu tetangganya yang membutuhkan maka suatu saat pasti ia akan dibantu ketika sedang membutuhkan. Selain itu sambatan juga dilandasi oleh falsafah hidup sapa nandur kabecikan, mesti bakal ngunduh (siapa menanam kebaikan pasti akan memetik hasilnya).
Seiring perkembangan jaman, terdapat pergeseran sistem gotong royong dengan sambatan menjadi sistem upah. Dalam bidang pertanian nampak jelas terjadi pergeseran itu. Sekarang ini warga masyarakat Samin yang terlibat dalam tandur (menanam padi) dan derep (memanen padi) diberi upah oleh pemilik atau petani penggarap sawah. Pergeseran sistem sambatan dalam pertanian tidak terlepas dari tuntutan hidup di zaman moderen ini, di mana lapangan kerja semakin sempit dan kebutuhan hidup makin tinggi.
Warga masyarakat yang dulunya murni bergotong royong menggarap sawah kini menjadikan sawah sebagai lapangan pekerjaan. Warga yang terlibat dalam menggarap sawah itu disebut dengan buruh tani. Sebenarnya tidak hanya terjadi di bidang pertanian saja perubahan sistem sambatan. Dalam membangun rumah misalnya kini jarang sekali warga yang membangun dengan sambatan. Sewaktu membangun rumah, sekarang ini biasanya diserahkan kepada tukang atau orang yang memiliki pengalaman dalam membangun rumah. Maka muncullah istilah tukang kayu, tukang batu dan laden tukang (pembantu atau asisten tukang). Tukang kayu adalah orang yang diupah untuk menangani konstruksi bangunan dengan bahan kayu. Tukang batu khusus menangani konstruksi yang berbahan batu bata. Adakalanya tukang batu merangkap menjadi tukang kayu atau sebaliknya. Adapun laden tukang biasanya membantu tugas secara umum dari tukang kayu dan tukang batu. Masing-masing tukang itu saling melengkapi satu sama lain dalam pekerjaan membangun rumah.
Pergeseran pelaksanaan sambatan juga terjadi dalam bidang yang lain, walaupun pergeserannya tidak drastis. Misalnya dalam penyelenggaraan pernikahan. Dalam penyelenggaraan pernikahan biasanya orang yang membantu pelaksanaan pernikahan diberi upah oleh orang yang punya hajatan. Tukang masak, tukang cuci peralatan makan dan minum dalam pesta pernikahan, tukang rias pengantin dan tukang dekorasi singgasana penganten biasanya akan diberi upah dalam jumlah tertentu. Namun warga yang rewang atau membantu secara umum tidak diberi upah. Adanya pergeseran pelaksanaan sambatan membawa dampak positif bagi masyarakat. Dengan adanya peralihan sambatan ke sistem upah, maka secara langsung akan menyediakan lapangan kerja atau tambahan penghasilan bagi warga yang membutuhkan.
Dengan masuknya teknologi modern dan banyaknya warga Samin yang mengadu nasib ke perkotaan setelah mereka kembali ke kampung tersebut membawa dampak yang sangat besar. Dari tadinya yang lugu dan gaptek sekarang banyak yang menjadi mengerti Teknologi Informatika terutama internet, facebook,dll setelah ilmu tersebut di dapat dari mereka yang kuliah di perkotaan. Bahkan sebagian warga ada yang mulai membuka warnet di daerah tersebut.
Setelah mereka mengenal teknologi dan mengetahui bagaimana kehidupan luar yang cenderung egoisme, maka sebagian warga samin banyak yang berpikiran kalau tradisi sambatan itu merugikan karena bekerja tanpa diberi upah. Luruhnya tradisi sambatan tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh sebagian warga daerah tersebut yang merantau dan melanjutkan sekolah ke jenjang Perguruan Tinggi yang berada di perkotaan.
Tetapi tradisi sambatan tersebut tidak sepenuhnya luntur dan hilang, masih ada sebagian daerah yang keukeuh dengan tradisi tersebut, terutama di daerah lereng pegunungan Kendeng yang berada di perbatasan daerah Kabupaten Blora. Sehingga memberikan asumsi bahwa akibat dari masuknya teknologi informasi memberikan dampak positif yaitu menjadikan masyarakat daerah tersebut mengetahui perkembangan serta kemajuan teknologi. Di sisi lain dampak teknologi informasi secara perlahan mengakibatkan budaya sambatan itu luntur karena semua pekerjaan dihitung untung dan ruginya.